sepiro gedhene sengsoro yen tinompo amung dhadi cubo
.....::::: Selamat datang di PSHT INDONESIA salam persaudaran......mohon dukunganya demi terealisasinya blog PSHT INDONESIA . Terima kasih::::....

PSHT Gelar Ujian Kenaikkan Tingkat Calon Warga

0 komentar






Persaudaraan Setia Hati Teratai PSHT Cabang Pati, menggelar ujian kenaikkan tingkat calon Warga. 66 anggota Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Teratai PSHT Cabang Pati, 9 diantranya wanita, mengikuti ujian kenaikkan tingkat calon pelatih atau sabuk putih. Ujian kenaikkan tingkat tersebut, berlangsung di Gedung Serbaguna Gabus, selama 2 hari, 9 dan 10 Agustus lalu.

Menurut Ketua PSHT Cabang Pati, Rusono, 66 peserta ujian kenaikkan tingkat tersebut berasal dari 17 Kecamatan yang sudah terbentuk padepokannya. Diselenggarakanya ujian kenaikkan tingkat itu, selain sebagai kelanjutan program kerja tahunan, juga untuk mencetak pelatih – pelatih unggul.

Tidak hanya itu saja, tutur Rusono, ujian kenaikkan tingkat juga sebagai upaya meningkatkan kemampuan anggota perguruan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Teratai PSHT, serta melestarikan budaya bangsa, dalam mengembangkan kreatifitas Sumber Daya Manusia SDM bangsa Indonesia.

Sedang materi yang diujikan dalam kenaikkan tingkat itu diantaranya, jurus-jurus PSHT, Senam PSHT, Solospel, kerohanian, serta fisik dan mental
Read More

NAPAK TILAS DAN RENUNGAN

1 komentar
Namanya Huntoro, nama panggilannya Blit. Ia adalah saudara kita yang berasal dari PSHT Blitar. Sejak tahun 2003 ia mulai merambah ke gelanggang, ikut bertanding pencak silat di Kelas B Putra. Selanjutnya sejak saat itu ia terus mengikuti berbagai pertandingan mulai dari tingkat cabang hingga tingkat Daerah, dan prestasi tertingginya sejauh ini adalah juara I kelas B Putra Kejuaraan antar Cabng PSHT se-Jawa Bali di UNS Solo tahun 2006, Juara III Kejurda se-Jawa Timur kelas B Putra tahun 2006 (diadakan di Jember), dan Juara I kelas B Putra Kejurnas Antar Perguruan tinggi PSHT di Unibraw-Malang, tahun 2006, dimana komisariat yang diwakilinya yaitu ITN Malang (Institut Teknologi Nasional Malang) berhasil meraih juara umum 2. Para pelatih dari PSH Terate Malang sepakat kalau Blit memang memiliki bakat alam untuk menjadi seorang fighter, yang perlu dilakukan adalah membenahi kemampuan fisiknya dan memoles mental bertandingnya.

Namun pada pertengahan tahun 2006 ia mengalami kecelakaan, motornya menabrak sebuah mobil ketika ia bari saja pulang dari sebuah acara di Batu. Tulang paha kanannya patah, wajah dan kepalanya mendapat beberapa jahitan, dan tangannya lecet-lecet. Kami semua menjenguknya di Rumah sakit dan dari hasil rontgennya, ia harusnya dioperasi. Tetapi entah karena alasan apa, orang tua Blit memilih untuk memebawanya ke pengobatan alternatif, kakinya cukup diurut. selama beberapa bulan Blit harus berjalan menggunakan kruk sampai kakinya pulih kembali.

Namun keinginannya untuk kembali ke gelanggang sangat kuat. Akhir tahun 2006 akhirnya ia memutuskan untuk melakukan operasi tulang. Tulangnya direposisi kembali dan disambung dengan pen. Pen itu baru akan dilepas bila tulang pahanya telah menyambung utuh, dan itu membutuhkan waktu kira-kira 1-2 tahun.

Tetapi karena tulangnya sudah diberi pengaman yaitu pen, mulai bulan ketiga Blit sudah bisa berjalan tanpa menggunakan kruk. Bulan kelima, sekarang ini ia sudah mulai menata stamina fisiknya, tidak dengan lari/joging, tetapi ia mengayuh sepeda stasioner selama kira-kira 30 menit-satu jam. Bahkan pelan-pelan ia mulai belajar melakukan gerakan dasar pencak silat yaitu sikap pasang (belum diperbolehkan menendang dan memukul). Ia berniat belajar silat lagi dari awal, setahap demi setahap dan menetapkan bahwa tahun depan (2008) ia sudah kembali ke gelanggang, main!

L ain si Blit, lain juga dengan kisah si Fir. Fir punya nama asli Mohammad Firnandi, asalnya dari Mojokerto. Ia dididik silat oleh Mas Kun "Murdoc", dedengkot silatnya PSHT Cabang Mojokerto. Debut pertamanya adalah pada saat Kejurda Jawa Timur di Islamic Center Surabaya tahun 2005, dimana ia berlaga di kelas E Putra. Lain dengan Blit, Fir mungkin tidak punya bakat alami sebagai Fighter, tetapi ia dianugerahi ketekunan dan kemauan keras untuk belajar. Kemampuan tekniknya yang meningkat pesat membuat ia dilirik oleh pengurus PSHT cabang Bulungan-Kalimantan Timur. Fir ditawari untuk bermain mewakili PSHT Bulungan di ajang PORPROV Kaltim tahun 2006. Alhasil, disana Fir berhasil meraih juara II Kelas F Putra. Kemudian, pada bulan Maret kemarin, Fir ditawari oleh Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) untuk bertanding mewakili UWKS di Kejurnas PANASONIC Antar Perguruan tinggi se-Indonesia. Dalam kejuaraan itu, Fir mampu bermain cemerlang hingga babak final.

Ternyata di babak final, Fir mengalami cedera parah; kaki kirinya patah di tulang kering akibat kesalahan teknik. Ia segera dibawa dengan ambulan ke Rumah sakit terdekat; dan pada malam itu juga tulang keringnya yang patah harus dioperasi. Dokter Sarwani yang menangani operasinya juga memasang pen di kaki Wir.

Setelah operasi, Fir mengalami rasa sakit yang amat sangat. Tetapi rasa sakit itu berhasil dilewatinya, bahkan di hari ketiga setelah operasi ia sudah berjalan-jalan dengan kruk. Sekarang ini Fir sudah keluar dari rumah sakit, ia masih berjalan menggunakan kruk, tetapi ia optimis untuk terus bermain pencak silat. Bersama pelatih ia merencanakan target. Bulan pertama, belajar berjalan; bulan kedua mulai menguatkan kaki dengan mengayuh sepeda stasioner; dan bulan ketiga, mulai belajar teknik dasar pencak silat dari awal lagi. Tahun depan, ia berniat sudah bisa bermain lagi.

Dan ini cerita ketiga: Namanya Wahyu Prabowo, panggilannya Bowo. Ia seorang pesilat dari PSHT Nganjuk yang berkuliah di Jurusan Olahraga Universitas Negeri Malang dan aktif di UKM PSHT Malang. Gelar Juaranya yang pertama diraih pada even Kejurda Jatim Gubernur Cup II di Islamic Center Surabaya tahun 2005. Lain Blek, Lain Wir, lain juga si Bowo: senjatanya untuk menang adalah semangatnya yang tinggi dan hasratnya untuk berlatih lebih keras dari siapapun. Karir silatnya bisa dibilang cerah; bahkan pada tahun 2006 ia masuk tim Jawa Timur untuk mengikuti Grand Final Sirkuit Pansonic Nasional di Jakarta.

Namun pada saat mengkuti kejuaraan Sirkuit 2006 itu, ia juga mengalami cedera; otot engkel kiri dan lutut kananya robek. Ia gagal dalam kejuaraan itu dan tak membawa pulang medali apapun; malah sampai seminggu sesudahnya ia tak mampu berjalan dan harus dipapah. Padahal sebulan kemudian ada kejuaraan penting yang harus diikutinya, yaitu Kejurda Jatim Pra-PON XVII, sebuak ajang untuk meyeleksi pesilat-pesilat terbaik se-Jatim yang berhak untuk mewakili jatim di even Pra PON XVII dan PON XVII; sebuah even Nasional yang amat bergengsi di mata insan pencak silat.

Bowo bersikeras untuk bermain. Para pelatih akhirnya mengalah pada semangat Bowo; mereka mengijinkannya bermain, asalkan ia harus menjalani pemulihan lebih dahulu. Mas Edi Suhartono-pelatih PSHT yang paling galak di Malang, membuat ultimatum pada Bowo; "Seminggu sebelum pertandingan baru kamu boleh berlatih nendang". Dan itupun tidak boleh sparring yang mengharuskan ada kontak anggota badan dengan lawan.

Kejurda Jatim itu akhirnya dikuti Bowo dengan penuh kehati-hatian, namun dengan niatan penuh ingin meraih Juara. Strateginya adalah berusaha main aman, tidak perlu banyak kontak dengan lawan, yang penting unggul poin. Sempat rasa sakit di engkel dialaminya ketika bertanding, tetapi ia bisa melewati babak tiap babak dengan baik.

Ternyata usahanya tidak sia-sia; semangat dan doa berhasil mengantarkan dirinya menjadi Juara I kelas G Putra se-Jatim! Bowo berhak untuk mengikuti Puslatda Pencak Silat Jatim dan mewakili Jawa Timur dalam even Pra-PON XVII yang diadakan di Banten bulan Mei ini. Meskipun terkadang masih terasa sakit, Bowo tetap tekun menjalani latihan keras seperti biasa. Bisa dibilang, latihan yang dijalani lebih keras dari atlit lain di Puslatda.

tiga cerita yang kukisahkan diatas bukalah rekayasa; namun benar-benar terjadi. Mungkin beberapa dari sedulur ada yang mengenal mereka bertiga. Namun tujuanku untuk menceritakan tiga cerita diatas bukanlah untuk menuai simpati; tetapi untuk belajar dari kisah itu.

Dari mereka bertiga kita semua bisa belajar sesuatu: Kita tidak boleh menyerah dalam menghadapi hambatan; seberat apapun hambatan itu. Mereka bertiga menolak untuk menyerah. Mereka tetap mematuhi suara panggilan hati masing-masing untuk kembali bertarung di gelanggang. Kukira mereka inilah contoh nyata bibit unggul manusia PSHT. Pantang menyerah, mental baja, dan bayangkan bila 1.000.000 manusia PSHT memiliki mental seperti mereka bertiga, dimana sikap pantang menyerah itu diwujudkan tidak hanya dalam berlatih pencak silat saja tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam bersekolah, bekerja, menjalankan organisasi, dan sebagainya; akan bagaimana Negara kita? Tentu negara Indonesia tercinta ini akan berubah; tidak akan terlalu lama terpuruk karena ada SDM-SDM yang pantang menyerah di dalamnya yaitu manusia Setia Hati Terate.

Akhir kata, boleh kita semua meneladani kata Michael Jordan:

"HALANGAN TIDAK BOLEH MENGHENTIKAN LANGKAH. JIKA DINDING MERINTANGI, JANGAN BERBALIK UNTUK MENYERAH. CARILAH SEGALA CARA UNTUK MEMANJATNYA, MENEMBUSNYA, ATAU MENGITARINYA".



"SEPIRO GEDHENING SANGSORO YEN TINOMPO AMUNG DADI COBO"
Read More

SEJARAH PSHT SINCE 1922

10 komentar


Sejarah Persaudaraan Setia Hati
Pada tahun 1903, bertempat di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya, Ki Ngabeni Surodiwirjo membentuk persaudaraan yang anggota keluarganya disebut “Sedulur Tunggal Ketjer”, sedangkan permainan pencak silatnya disebut “Djojo Gendilo”
Tahun 1912, Ki Ngabeni Surodiwirjo berhenti bekerja karrena merasa kecewa disebabkan seringkali atasannya tidak menepati janji. Selain itu suasana mulai tidak menyenangkan karena pemeintah Hindia Belanda menaruh curiga; mengingat beliau pernah melempar seorang pelaut Belanda ke sungai dan beliau telah membentuk perkumpulan pencak silat sebagai alat pembela diri, ditambah pula beliau adalah seorang pemberani, Pemerintah Hindia Belanda mulai kwatir, beliau akan mampu membentuk kekuatan bangsa Indonesia dan menentang mereka. Setelah keluar dari pekerjaannya, beliau pergi ke Tegal.
Tahun 1914, Ki Ngabehi Surodiwirjo kembali ke Surabaya dan bekerja di Djawatan Kereta Api Kalimas, dan tahun 1915 pindah ke bengkel Kereta Api Madiun. Disini beliau mengaktifkan lagi Persaudaraan yang telah dibentuk di Surabaya, yaitu “Sedulur Tunggal Ketjer”, hanya pencak silatnya sekarang disebut “Djojo Gendilo Tjipto Muljo”. Sedangkan pada tahun 1917, nama – nama tersebut disesuaikan denngan keadaan zaman diganti menjadi nama “Perssaudaan Setia Hati”

Ki Hadjar Hardjo Oetomo
Salah satu murud Ki Ngabehi Surodiwirjo yang militan dan cukup tangguh, yaitu Ki Hadjar Hardjo Oetomo mempunyai pendapat perlunya suatu organisasi untuk mengatur dan menertibkan personil maupun materi pelajaran Setia Hati, untuk itu beliau meohon doa restu kepada Ki Ngabehi Surodiwirjo. Ki Ngabehi Surodiwirjo memberi doa restu atas maksud tersebut., karena menurut pendapat beliau hal – hal seperti itu adalah tugas dan kewajiban anak muridnya, sedangkan tugas beliau hanyalah “menurunkan ilmu SH”. Selain itu Ki Ngabehi Surodiwirjo berpesan kepada Ki Hadjar Hardjo Oetomo agar jangan memakai nama SH dahulu.
Setelah mendapat ijin dari Ki Ngabehi Surodiwirjo, Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada tahun 1922 mengembangkan ilmu SH dengan nama Pencak Silat Club (P. S. C).
Karena Ki hadjar Hardjo Oetomo adalah orang SH, dan ilmu yang diajarkan adalah ilmu SH, maka lama – kelamaan beliau merasa kurang sreg mengembangkan ilmu SH dengan memakai nama lain, bukan nama SH. Kembali beliau menghadap Ki Ngabehi Surodiwirjo menyampaikan uneg – unegnya tersebut dan sekalian mohon untuk diperkenankan memakai nama SH dalam perguruannya. Oleh Ki Ngabehi Surodiwirjo maksud beliau direstui, dengan pesan jangan memakai nama SH saja, agar ada bedanya. Maka Pencak Silat Club oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo diganti dengan nama “SETIA HATI MUDA” (S. H. M).

Peranan Ki Hadjar Hardjo Oetomo Sebagai Perintis Kemerdekaan
Ki Hadjar Hardjo Oetomo mengembangkan ilmu SH di beberapa perguruan yang ada pada waktu antara lain perguruan Taman Siswo, Perguruan Boedi Oetomo dan lain – lain. Dalam mengajarkan ilmu SH beliau diantaranya adalah menamakan suatu sikap hidup, ialah “kita tidak mau menindas orang lain dan tidak mau ditindas oleh orang lain”. Walaupun pada waktu itu setiap mengadakan latihan tidak bisa berjalan lancar, karena apabila ada patroli Belanda lewat mereka segera bersembunyi; tetapi dengan dasar sikap hidup tersebut murid – murid beliau akhirnya menjadi pendekar – pendekar bangsa yang gagah berani dan menentang penjajah kolonialisme Belanda. Dibandingkan keadaan latihan masa lalu yang berbeda dengan keadaan latihan saat ini, seharusnya murid – murid SH lebih baik mutu dan segalanya dari pada murid – murid SH yang lalu. Melihat sepak terjang murid – murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang dipandang cukup membahayakan, maka Belanda segera menangkap Ki Hadjar Hardjo Oetomo bersama beberapa orang muridnya, dan selanjutnya dibuang ke Digul. Pembuangan Ki Hadjar Hadjo Oetomo ke Digul berlangsung sampai dua kali, karena tidak jera – jeranya beliau mengobarkan semangat perlawanan menentang penjajah.
Selain membuang Ki Hadjar hardjo Oetomo ke Digul, Pemerintah Hindia Belanda yang terkenal dengan caranya yang licik telah berusaha memolitisir SH Muda dengan menjuluki SHM bukan SH Muda, melainkan SH Merah; Merah disini maksudnya adalah Komunis. Dengan demikian pemerintah Belanda berusaha menyudutkan SH dengan harapan SH ditakuti dan dibenci oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. Menanggapi sikap penjajah Belanda yang memolitisir nama SH Muda dengan nama SH Merah, maka Ki Hadjar Hardjo Oetomo segera merubah nama SH Muda menjadi “Persaudaan Setia Hati Terate” hingga sampai sekarang ini.
Melihat jasa – jasa Ki Hadjar Hardjo Oetomo tersebut, maka pemerintah Indonesia mengakui beliau sebagai “Pahlawan Perintis Kemerdekaan” , dan memberikan uang pensiun setiap bulan sebesar Rp. 50.000,00 yang diterimakan kepada isteri beliau semasa masih hidup.
Setelah meninggal dunia, beliau dimakamkan di makam “Pilangbango”, yang terlatak di sebelah Timur Kotamadya Madiun, dari Terminal Madiun menuju ke arah Timur. Beliau mempunyai 2 (dua) orang putra, yaitu seorang putri yang diperisteri oleh bapak Gunawan, dan Seorang putra yang bernama bapak “Harsono” sekarang berkediaman di jalan Pemuda no. 17 Surabaya. Ibu Hardjo Oetomo meninggal pada bulan September 1986 di tempat kediamannya, di desa Pilangbango Madiun.
Rumah beliau, oleh Bapak Harsono dihibahkan kepada Persaudaraan Setia Hati Terate pada akhir tahun 1987 dengan harga Rp. 12,5 juta. Rencana Pengurus Pusat, bekas rumah kediaman pendiri Persaudaraan SH Terate tersebut akan dipugar menjadi “Museum SH Terate” agar generasi penerus bisa menyaksikan peninggalan pendahulu – pendahulu kita sejak berdiri sampai dengan perkembangannya saat ini.



Konflik PSHT dengan WINONGO

                                                                              




SH Terate adalah perguruan silat legendaris yang berperan menyebarkan pencak silat ke berbagai daerah (bahkan manca negara). Di pusatnya, Madiun, terdapat ribuan pendekar SH terate yang tersebar sampai pelosok-pelosok kampung. Bagi pemuda-pemuda di daerah Madiun, menjadi anggota SH terate adalah tradisi yang mereka laksanakan secara turun temurun. Bahkan banyak keluarga yang dari Kakek buyut sampe cicit, semua adalah anggota PS SH Terate. Hal ini membuat SH Terate sebagai organisasi, cukup disegani di kawasan Madiun karena memiliki massa yang sangat besar.

Sayang, di Madiun sering terjadi perkelahian massal antara anggota SH Terate dan anggota SH Tunas Muda (Winongo). Sebenarnya pendiri kedua perguruan silat tersebut berasal dari perguruan yang sama. Menurut hikayat, asal muasal pencak silat di Madiun adalah dari seorang pendekar bernama Suro (Mbah Suro).

Perguruan silat ini kemudian berkembang cukup pesat. Mbah Suro memiliki banyak sekali murid. Namun diantara sekian ratus muridnya, ada dua yang paling menonjol. Yang satu kemudian mendirikan perguruan silat sendiri di daerah Winongo Madiun, dan kemudian di kemudian hari menjelma menjadi SH Tunas Muda. Sementara yang satunya meneruskan perguruan silat mbah Suro dan kemudian menjelma menjadi SH Terate.

Awalnya, kedua perguruan tersebut saling berdampingan dengan damai satu sama lain. SH Winongo memiliki pengaruh di daerah madiun kota, sementara SH Terate mengakar di daerah madiun pinggir/pedesaan. Benih perpecahan dimulai ketika antara tahun 1945-1965 an, banyak pendekar SH Winongo yang berafiliasi dengan PKI. SH Terate yang menganggap ilmu SH (Setia Hati) yang diturunkan oleh mbah Suro merupakan ilmu yang berbasis ajaran Islam, merasa SH Winongo mulai keluar dari jalur tersebut.

Perselisihan semakin menjadi-jadi antara tahun 1963-1967, dimana banyak pendekar dari kedua perguruan yang terlibat bentrok fisik dalam peristiwa-peristiwa politik. Meski banyak anggotanya yang berafiliasi kiri, namun secara organisasi SH Winongo tidak terlibat dalam aktivitas kekirian tersebut. Hal inilah yang kemudian menyelamatkan perguruan silat ini dari pembubaran oleh pemerintah.

Setelah masa pembersihan anggota PKI yang berlangsung antara tahun 1967-1971 di daerah Madiun, SH Winongo sedikit demi sedikit mulai kehilangan pamornya. Puncaknya, pada era 1980-an bisa dikatakan perguruan silat ini dalam keadaan mati suri. Konon, banyak pendekar SH Terate yang berperan sebagai eksekutor para anggota PKI (termasuk beberapa pendekar SH Winongo yang terlibat PKI) di kawasan Madiun. Hal inilah yang kemungkinan memicu dendam pendekar SH Winongo yang non-PKI tapi merasa memiliki solidaritas pada kawan-kawannya yang dieksekusi tersebut.

Entah kebetulan atau tidak, seiring dengan munculnya PDI sebagai kekuatan politik yang cukup kuat pada era 1990-an, pamor SH Winongo sedikit demi sedikit mulai naik kembali. Banyak pemuda dari kawasan perkotaan Madiun yang masuk menjadi anggota SH Winongo. Madiun kota sendiri merupakan basis PDI yang cukup kuat. Sementara Madiun kabupaten merupakan basis NU dan Muhammadiyah. Banyak yang mengatakan bahwa situasi tersebut mirip dengan situasi di zaman ‘60-an, dimana PKI berkuasa di Madiun kota dan NU berkuasa di Madiun Kabupaten.

Seiring dengan perkembangan tersebut, mulai sering terjadi perkelahian antar pendekar di berbagai pelosok Madiun. Perkelahian yang juga melibatkan senjata tajam tersebut tak jarang berakhir dengan kematian salah satu pihak. Pada waktu itu, Madiun bagaikan warzone para pendekar silat (termasuk dengan senjata tajam dan senjata lainnya). Di berbagai sudut kota dan kampung terdapat grafiti yang menunjukkan identitas kelompok pendekar yang menguasai kawasan tersebut. Pendekar SH Terate menggunakan istilah SHT (Setia Hati Terate) atau TRD (Terate Raja Duel) untuk menandai basisnya. Sementara SH Winongo menggunakan istilah STK, yang kemudian diplesetkan menjadi “Sisa Tentara Komunis”, untuk menandai kawasan mereka.

Pada kurun waktu 1990-2000, STK mengalami perkembangan jumlah anggota yang sangat pesat. Desa Winongo sebagai markas besar mereka, pada awalnya masih mudah diserang oleh pendekar SHT dari wilayah tetangga. Namun karena kekuatan mereka yang semakin besar membuat Winongo menjadi untouchable area. Hampir seluruh pemuda dan lelaki di desa ini menjadi anggota STK yang militan, sehingga penyerbuan SHT ke wilayah ini menjadi semakin sulit dilakukan.

STK menggunakan taktik populis dalam merekrut anggota baru. Mereka masuk ke SMP dan SMU di kota Madiun dan menawarkan status pendekar secara instan kepada pemuda-pemuda yang mau bergabung. Sementara untuk meraih status pendekar di SHT, persyaratannya cukup berat dan memakan waktu cukup lama. Tawaran menjadi pendekar instan tersebut tentu saja mendapat sambutan yang besar dari para pemuda yang belum mengetahui esensi sebenarnya sebuah panggilan “pendekar”. Di Madiun, menjadi pendekar adalah sebuah kehormatan yang diimpi-impikan para pemuda. Predikat pendekar menjadi sangat elit karena harus dicapai dengan susah payah. Seorang Pendekar dipastikan memiliki kemampuan silat dan fisik yang prima, serta pemahaman agama yang dalam.

Akibat taktik populis yang dilakukan STK, kode etik pertarungan antar pendekar yang selama ini terjaga, sedikit demi sedikit mulai pudar. Anak-anak muda yang naif (pendekar instan) mulai menggunakan cara-cara yang kurang etis dalam berkelahi. Misalnya mereka mengeroyok lawan, menculik lawan di rumah, tawuran (lempar-lemparan batu), menyerang dari belakang, dan cara-cara yang tidak terhormat lainnya. Awalnya pendekar-pendekar SHT yang memegang teguh kode etik pertarungan pencak silat, masih berupaya sabar. Namun, akhirnya mereka kehilangan kesabaran setelah korban di pihak mereka mulai berjatuhan.

Tercatat, terjadi beberapa kali pertarungan yang memakan korban jiwa akibat tindakan yang tidak sportif. Pernah terjadi kasus dimana dua orang pendekar yang sedang berboncengan sepeda ontel, di tebas dari belakang oleh lawan bersepeda motor dengan menggunakan clurit. Kemudian ada juga kasus seorang pendekar yang sedang menggarap sawah, ditebas dari belakang oleh lawannya dengan menggunakan pacul.

Kejadian-kejadian tersebut merupakan gambaran betapa etika pertarungan sportif satu lawan satu yang selama ini dipegang erat oleh para pendekar, mulai pudar.

Cikal bakal dua perguruan silat terbesar di Madiun, SH Terate dan SH Winongo, adalah sebuah perguruan pencak silat puritan bernama SH Putih. SH Putih didirikan oleh seorang pendekar silat bernama Mbah Suro pada tahun 1903. Mbah Suro adalah seorang pengembara, dia telah melanglang buana sampai ke Tiongkok dan India untuk mempelajari berbagai ilmu bela diri.

Setelah merasa cukup ilmu, Mbah Suro pulang ke tanah kelahirannya, dan mendirikan sebuah perguruan pencak silat tanpa nama. Berdasarkan ilmu yang didapatkannya selama mengembara, ia mengembangkan jurus-jurus silat baru yang kemudian membawa pembaharuan dalam ilmu beladiri asli nusantara ini.

Antara SH Winongo dengan SH Terate menganut prosedur yang berbeda dalam penetapan seorang murid menjadi “WARGA”. Di SH Winongo, seorang murid yang baru masuk, harus segera disahkan sebagai “WARGA” agar ikatan emosional dan fisik yang bersangkutan dengan perguruan tidak terlepas lagi. Sementara di SH Terate, untuk menjadi “WARGA” seorang murid harus menjalani proses yang panjang dan sangat keras. Seorang “WARGA” dalam filosofi SH Terate haruslah pendekar yang benar-benar telah memahami esensi dari ilmu pencak silat itu sendiri, terutama kegunaannya bagi masyarakat. Sehingga, sedikit sekali dalam satu angkatan, seorang murid SH Terate akhirnya dapat mencapai level menjadi “WARGA”







      Jiwa patriotisme yang tinggi ditunjukkan oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo, salah seorang        Saudara  Tertua Setia Hati, dengan bantuan teman-temannya dari Pilang Bango, Madiun dengan berani menghadang kereta api yang lewat membawa tentara Belanda atau mengangkut perbekalan militer. Penghadangan, pelemparan, dan perusakkan yang terjadi berulang-ulang sampai akhirnya ia ditangkap PID Belanda dan mendapat hukuman kurungan di penjara Cipinang dan dipindahkan ke Padang, Sumatera Barat. Setelah dibebaskan, Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang telah mendirikan Setia Hati Pencak Sport Club yang kemudian mengaktifkan kembali perguruannya sampai akhirnya berkembang dengan nama Persaudaraan Setia Hati Terate.


Read More
 
copy right © PSHT MADIUN